Jumat, 29 April 2011

cerpen : Hidden Letter


ada tugas dari sekolah nih buat bikin cerpen, ini baru coba-coba aja. maaf ya kalo ada kekurangan :)
hehehe  
          Aku duduk termangu di samping pusara seseorang yang pernah menjadi inspirasiku, orang kesayanganku. Aku mulai menangis. Kuletakkan rangkaian bunga buatanku. Kukenakan kembali tudung kepalaku kemudian segera berlalu dari pemakaman.
            Aku duduk di kamarku. Empat bulan sudah sejak kematiannya, namun duka masih tetap menyelimutiku seakan baru kemarin kami berbincang sambil makan bersama dan kemudian ia memegangi lambungnya. Aku panik dan segera menelpon rumah sakit untuk memanggil ambulans. Seminggu ia terbaring di rumah sakit dan tertidur untuk selamanya. Rasanya kejadian itu bagai azab untukku. Wajah itu, ia sekarat di hadapanku. Aku berusaha tidur namun tak kunjung terpejam. Akhirnya aku terjaga hingga pagi dan berangkat sekolah sebelum orang-orang di rumahku terbangun dan mendapatiku dengan mata merah dan bengkak.
            Pukul 05.30 aku tiba di gerbang sekolah, belum ada siapa-siapa, bahkan gerbang baru saja dibuka. Sebelumnya aku selalu terlambat dan tak pernah berangkat kurang dari pukul setengah tujuh, apalagi setengah enam. Aku bingung apa yang harus kulakukan kini. Aku segera pergi ke kantin dan bersyukur karena kantin telah buka. Kubeli sebotol softdrink dan pergi ke kelas. Ruangan masih kosong, kucek lagi jam tanganku, pukul 05.55.
            Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. “Rossa....tumben kamu jam segini udah nongol di sekolah?” tanya Anna sambil mengacungkan ibu jarinya kepadaku. Aku tetap menunduk dan tak menghiraukan kehadirannya. Anna menepukku lagi, “Yaaaaa (dengan logatnya yang dibuat-buat agar seperti logat Korea yang sedang kesal) ! Aku menyapamu dan kau bahkan tak mengangkat wajahmu? Menyebalkan !” cibirnya. Kudongakkan kepalaku agar bisa menatapnya, berusaha tersenyum “Kenapa? Ga boleh?” aku menyahut dengan sinis, kujamin dia kesal setengah mati padaku. Anna menyadari wajahku yang tampak berbeda dari biasanya, mataku berkantung, bengkak, dan merah. Wajahku terlihat seperti zombi. “Hei hei ! Kenapa mukamu? Udah kayak mayat idup aja,” katanya. “Masa???” aku pura-pura kaget dan tidak sadar bahwa wajahku begitu menyeramkan. “Iya, serem tau. Kamu kayaknya abis nangis ya?” selidiknya. “Loh, nangis? Hmm...mungkin semalam gara-gara baca novel sampai tengah malam, udah gitu ceritanya dramatis gitu jadi sampai nangis-nangis bacanya,” ternyata aku lumayan lihai dalam berbohong ya?
            Jam istirahat kuhabiskan di perpustakaan, melamun di hadapan buku yang sedang kubaca, pikiranku melayang entah kemana. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?” seseorang berbisik di telingaku. “Haaa....!” pekikku kaget tersadar dari lamunanku. Para pengunjung menatapku tajam. “Maaf,” bisikku pada penjaga perpustakaan. Aku menatap Jenna kesal. “Apa?” sergahku sambil berbisik. Aku melengang pergi meninggalkan Jenna. Aku kesal, sepertinya tak ada tempat yang membuatku nyaman tanpa diganggu oleh siapapun. Sepulang sekolah aku pergi ke atap sekolah. Memandang lurus ke langit, aku tak tau apakah ini hanya imajinasiku atau kenyataan bahwa aku melihat wajah ibuku yang dibentuk oleh kumpulan awan. Aku menangis, seakan wajah ibu terus menerorku. Aku merindukannya. Air mataku mengalir lagi. Bagaimana aku bisa terus menjalani hidup jika aku terus bergelung dalam kesedihan dan tenggelam dalam air mata? Perlahan kuhampiri sisi atap gedung, aku menatap ke bawah. Apakah tindakanku ini benar? Bukankah bunuh diri itu dosa? Bagaimana aku menanggung dosaku kelak? Namun bagaimana aku bisa menjalani hari jika aku hampir gila merindukan ibuku? Kurentangkan kedua tanganku, kurasakan angin menerpa tubuhku. Aku yakin untuk melompat ketika seseorang menarik tubuhku. Riko.
            “Bodoh !” bentaknya. Aku diam, dia anak kelas sebelah, orang yang aku suka. Aku menunduk, menangis dan terus menangis. “Udah jangan nangis lagi ! Kamu kira kalau bunuh diri semua masalah bisa selesai? Kamu ga mikir, nama sekolah kita bakal tercemar kalau ada kasus kayak beginian.” Kukira kata-katanya akan manis dan menghibur, tapi malah menusuk dan terlalu......jujur. Aku tak bisa melawan kata-katanya karena itu memang benar. Yang ia katakan benar. Aku bodoh, tak memikirkan seberapa besar pengaruh dari tindakanku yang sembrono itu jika benar-benar kulakukan. Tapi ia terdengar jahat dan seolah-olah menusukku dengan ucapannya itu, seakan telah menangkap penjahat dan aku adalah penjahatnya. “Maaf,” ujarku meminta maaf. Aku segera beranjak pergi dan pulang.
            Aaaaaaarrrgggghh......memalukan ! Aku bertemu dengan cowok yang kusuka tapi dalam kondisi yang buruk. Aku menyesal dengan tindakanku yang kuakui memang tindakan konyol dan bodoh. Tak akan kuulangi lagi, aku berjanji.
            Riko adalah temanku semasa SD dulu, kini kami bersekolah di tempat yang sama lagi di SMAN 01 Cisalopa, salah satu SMA negeri paling bergengsi di kabupaten Bogor. Aku menyukai Riko sejak kami masih SD, duduk sebangku karena kebetulan nama kami berurutan absen. Dia Riko dan aku Rossa. Dulu dia bawel sekali, beda jauh dengan yang sekarang. Setelah kami bertemu lagi di SMA, dia bahkan seperti tidak pernah mengenalku, menyebalkan sekali. Aku sakit hati karena sikapnya yang jutek itu. Keterlaluan. Dulu ia hanyalah bocah ingusan berkacamata seperti Harry Potter hanya saja versi jeleknya. Kini ia berubah drastis seperti baru keluar dari kepompong dan berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Dulu ia naksir berat padaku dan tak pernah kuanggap dia lebih dari sekedar teman biasa, kini malah aku yang terpesona dengan perubahannya.
            Esoknya di sekolah, aku mulai ceria kembali. Aku kembali pada kegiatan rutinku. Kembali telat berangkat sekolah. “Rajinnya cuma sehari doang. Sekarang baru sampai di sekolah pas sebelum bel berbunyi? Hebat banget, hebat !” itu lebih terdengar sebagai hinaan daripada pujian. Kubalas dengan tatapan super duper jutek. Anna langsung diam seribu bahasa, kujamin ia sakit hati dengan tatapanku barusan. Jam pelajaran pertama hari ini diisi dengan mata pelajaran matematika oleh bu Tita, wali kelas kami. Oh tidak...aku pasti akan tersiksa.
            “Ehm...saya akan membahas sedikit tentang lomba yang akan diadakan oleh sekolah kita. Mengenai speech contest saya rasa saya sendiri yang akan memilih peserta lombanya. Dari kelas ini saya telah putuskan akan diwakili oleh Rossa. “Hah?” pekikku kaget. Apa-apaan ini, main ambil keputusan saja tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu. “Kenapa? Ada yang keberatan?” tanya beliau. “Rossa, apakah sudah jelas?” tanyanya lagi. “I-iya bu. Jelas sekali.” Aku mengangguk kaku. Baiklah...demi kelas.
            Ketika pulang sekolah aku berpapasan dengan Riko. Kutahan ia, “Hei, sorry ya yang kemarin. Makasih udah ngingetin aku” kataku dengan nada bicara yang lebih terdengar memelas. Ia menatapku, aku tersenyum, kemudian ia berbalik. Aku kesal mengapa ia begitu jahatnya menyikapiku seperti berhadapan dengan orang rendahan dan tak dikenalnya. Kutarik lengannya, “Heh, biasa aja dong ngeliatnya ga usah kayak ngeliatin orang rendahan. Memangnya aku sedang mengemis padamu?” ia kemudian menatapku lagi, bukan dengan tatapan seperti tadi melainkan seolah berkata : Do I know you? Jika kau bertanya apa yang kurasakan, aku mengelus dada seperti orang yang sedang dilanda cobaan berat disertai wajah pasrah. “Heh, kenapa sih sebenernya kamu? Perasaan waktu SD ga nyebelin gini deh.” Kataku tiba-tiba. Ia lalu tersenyum sombong. “Zaman SD? Ga salah denger? Jangan-jangan kau suka padaku, ya?” kata-kata itu dia ucapkan dengan tingkat PD yang tak tercapai oleh siapapun. Wajahku langsung berganti ekspresi dari pasrah menjadi garang. Aku maju selangkah lebih dekat, “Oh ya? Pede banget ngomongnya. Hati-hati ya kalo ngomong jangan sampai nyesel.” Aku mengancamnya. Ia belum tau seperti apa jika ada yang berani menantangku. Aku mulai membencinya.
            Esok harinya...
            Orang-orang berkumpul di depan mading untuk melihat sesuatu. Kemudian Riko datang dan melihat apa yang sedang dikerumuni oleh orang-orang tersebut. Ia membelalakkan matanya ketika matanya tertuju pada selembar kertas berwarna merah muda dengan motif Hello Kitty dengan tulisan jelek di atasnya, ia mengenali itu. SURAT CINTANYA UNTUK ROSSA ! Kontan saja ia segera berlari ke kelas X-B untuk mencari sumber yang bertanggung jawab dengan situasi tersebut. Ditariknya tanganku, bahkan aku hampir diseretnya ke taman sekolah. “Apa-apaan itu yang di mading?” ia bertanya dengan marah. Kupamerkan senyum kemenanganku. “Apaan? Emang ada apa di mading?” tanyaku dengan tampang sok lugu. “Surat itu,” ada sedikit keraguan dalam nada bicaranya. “Surat apa?” tanyaku lagi. “Surat cinta, dodol !” ia mulai malu. Rasakan! “Surat cinta? Surat cinta apaan ya?” masih dengan berlagak bodoh aku bertanya padanya. Ia mulai kesal, “Yang waktu SD ! Waktu SD pernah kukirim ke kamu. Puas?” tampangnya menyeramkan sekali ketika ia marah. Tak seaneh dulu. Aku deg-degan. Oh Tuhan, kenapa ini? Kucoba alihkan perhatianku dengan kembali bicara, “Aku hanya mengenang masa lalu dengan teman sebangkuku. Apakah dia masih ingat padaku? Rupanya masih, ya? Kenapa kamu ngamuk Cuma gara-gara kertas yg ada tulisanmu doang?” Riko kehabisan kata-kata. Akhirnya dia uring-uringan. “Gini ya, jangan mentang-mentang kita pernah duduk sebangku dan aku pernah suka padamu jadi kamu ngejar-ngejar aku,” buset.....anak ini sepertinya punya masalah kelebihan dosis kepercayaan diri. Aku tertawa, “Hahahahahahaha.....lucu sekali. Kamu berpikir sejauh itu, manusia macam apa kamu? Ga malu dengan omongan kamu? Kenapa kamu mikir kalo aku suka sama kamu? Atau jangan-jangan kamu yang masih ngarep ya?” sepertinya dia sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk menghantamku. Kemudian, “Tau gini kubiarin aja kamu mati di atap.” Sialan. Aku berlalu pergi meninggalkannya dengan perasaan gondok. Kurasakan ia tersenyum di belakangku. Ingin sekali kuhantam wajah sempurnanya dengan kursi yang di penuhi paku-paku tajam agar ia babak belur. Sialan kau Riko ! Tunggu saja pembalasanku selanjutnya. Aku akan membuatmu benar-benar menyesal tak membiarkanku mati.
            Aku pulang, di kamar aku mulai menyusun rencana untuk membalas Riko. Beginilah aku, orang yang mudah dendam karena terlalu mengutamakan gengsi. Jika ada yang berani menantangku tak segan-segan akan kubuat ia berlutut meminta maaf padaku. Tapi bukan berarti aku tipe-tipe wanita semacam preman. Tapi sepertinya untuk hal semacam Riko lebih baik aku mundur dengan aman, karena jika rasa suka dan benci bercampur aduk bagaimana hasilnya? Selain itu dia juga mungkin akan mengancamku dengan menyebarkan seperti apa kelakuan burukku sewaktu SD. Kuputuskan saja biar hal ini mengalir seperti air. Tapi aku tetap bingung dengan perasaanku. Terkadang aku berpikir bahwa aku ini aneh. Baru beberapa hari yang lalu aku bersedih sampai mau bunuh diri. Esoknya aku kembali ceria seolah-olah tak ada kejadian apa-apa di hari sebelumnya. Beberapa hari yang lalu aku masih ngefans pada Riko. Sekarang aku menyukainya sekaligus membencinya. Kemarin aku menantangnya, kini aku mundur dengan halus. Sepertiya aku orang teraneh yang pernah ada sepanjang sejarah.
            Ada pesan masuk di ponselku. Dari Enno sang ketua kelas.
            Siapkan diri buat lomba nanti. Aku udah cari info katanya ini calon lawan-lawan kamu : Via, Edgar, Lina, Riko, Leony.
            Oh tidaaaaakkk.......kenapa ada Riko? Menyebalkan sekali padahal aku mau menjauhinya malah jadi saingannya.
            Thx Enno. I’ll try. J
            Kutaruh kembali ponselku. Ah menyebalkan sekali. Seperti kebetulan yang ditakdirkan. Kenapa harus Riko? Aku menyukainya sampai aku bahkan tak mau membencinya. Tapi aku gengsi, gengsi pada perasaanku sendiri. Tiba-tiba saja kusobekkan selembar kertas dan kutulis beberapa kalimat.
Run..runaway...so far until you can feel so tired. Runaway from love....
Ah aku pusing sekali memikirkannya, tak seharusnya aku tertarik padanya. Aku ingin kabuuuuurrr...
Tiba hari lomba...
Aku nervous. Bukan karena lombanya, tapi karena pesertanya. Ah sial. Tak seharusnya aku menyukainya. Ini hanya accidentally in love seperti kata Counting Crows.
Tiba giliranku. Sebisa mungkin kutenangkan diri. Aku berpidato dengan lancar. Syukurlah.
Lagipula ini lomba yang diselenggarakan sekolah dalam acara ulang tahun sekolah mungkin, yang aku tau bahwa hari ini adalah hari Rabu.
Kuhampiri Riko dan kuucapkan salam untuknya. Ia berkata, “Mau apa lagi?” tanyanya dengan nada dingin. Hatiku langsung beku. Kucoba menghangatkan suasana. “Masih dendam?” tanyaku takut-takut. “Dendam apa? Ngapain buang-buang waktu Cuma buat dendam-dendaman sama orang kayak kamu? Ga penting banget,” katanya santai tanpa beban. Ingin sekali kupelintir mulut sialannya itu, tapi sayangnya aku harus sabar menghadapi ‘makhluk’ seperti dia. Tiba-tiba muncul seorang gadis cantik bertubuh ramping, berwajah cantik, dan benar-benar....cantik. Setahuku dia adalah kakak kelas dua tahun di atas kami. Dia adalah Mona, si primadona sekolah. Tapi kenapa dia menghampiri Riko? Jangan-jangan....
“Say, penampilan kamu bagus tadi waktu pidato, bersemangat banget !” kata Mona ‘si cewek sempurna’. Oh tidak........panas ! Panas ! Sikap Riko bahkan sangat lembut, berkebalikan 1800 dengan sikapnya padaku tadi. Keterlaluan ! Oh iya, kalau dipikir-pikir tentu saja ia bisa bicara begitu lembut, lah wong itu kan pacarnya. Aku pulang dengan langkah gontai. Aku menyukainya dengan susah payah, aku....patah hati. Sialan, aku baru tau dia pacaran dengan si Mona. Pantas saja ia tak suka padaku, sepertinya aku bukan tipenya. Begitu pula para cewek yang sudah direject olehnya. Siapa yang bisa menandingi si cantik Mona? Sudah tua masih cari brondong. Kesal sekali.
Beberapa hari berikutnya aku menjauhi Riko, biasanya aku menggodanya dengan ejekan-ejekanku, kini tidak lagi. Aku lebih sering menghabiskan waktuku di taman atau atap sekolah. Seperti hari ini ketika pulang sekolah aku pergi ke atap dan menatap langit dengan pandangan kosong. Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundakku dari belakang. Aku kaget tapi tetap diam tak berpaling sedikitpun. Ketika Riko duduk di sampingku membuatku kaget. Tapi aku tak bicara sepatah kata pun. Kusambung lagi lamunanku.
“Heh bawel, ngapain nongkrong di sini? Mau bunuh diri lagi?” ia mencoba membuka percakapan. Aku berpaling menatapnya sekilas, “Pengen aja nongkrong di sini. Gak deh kalo mau bunuh diri juga ga mau di sini. Bahaya, udah gitu atapnya tinggi, ntar lama jatuhnya,” Ia tertawa, “Haha...baru nyadar? Lagian orang mati aja kepingin hidup, nah kenapa orang hidup malah maunya mati?” kutengok lagi ke arahnya, “Bisa ketawa juga ternyata?” lucu juga kalau tertawa. “Hei aku juga kan manusia, punya selera humor juga. Emangnya aku makhluk apaan sampai ketawa juga ga bisa?” tanyanya. Dalam hati aku bertanya-tanya, tumben dia bisa sok akrab seperti ini? “Ada apa sebenarnya ngomong aja ga usah pakai basa-basi. Sejak kapan kamu jadi bisa nyapa aku, sok dekat, sok akrab, bahkan bisa ketawa segala? Ada mukjizat, kah?” tanyaku heran.
Dia diam. “Aku merasa kehilangan seseorang,” ada jeda sebentar, “Dia orang yang udah lama aku suka,” jeda lagi, agak lama sehingga aku mulai menatap wajahnya untuk memperhatikan ceritanya. Wajahnya bersemu merah, aku mulai bertanya-tanya sebenarnya apa yang akan dia ceritakan padaku. “Orang yang aku suka itu....” hening sejenak, “kamu.”
“APAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA???????????????” aku kaget sekali sampai mataku mau keluar. Kutampar pipiku sendiri, sakit. Ini bukan mimpi, ini nyata. “Tapi....bukannya kamu udah punya cewek?” tanyaku ragu-ragu. Kali ini malah ida yang heran, “Hah, kata siapa?” Di pikiranku langsung terlintas gambaran tentang Mona. “Mona,” kataku jujur. Ia malah tertawa. “Hahaha....kamu nggak tau ya kalo Mona itu kakakku?”
Wah sepertinya aku telah salah duga terhadap Mona dan Riko. Kutatap wajah Riko, ia menatapku malu-malu, “Jadi?” tanyanya. Aku mengangguk. Hubungan kami resmi berpacaran.
Keesokan harinya...
Banyak orang yang berkumpul di depan mading, ada apa lagi ini?
Dear Riko my Harry Potter, aku juga suka kamu. Tapi kita masih SD. Bisa aja hubungan kita Cuma main-main doang, aku nggak mau gitu. Mungkin suatu saat nanti kalo kita berdua udah sama-sama gede, siapa tau kita bisa barengan lagi. Saat itu, aku janji kalo kita bisa bareng lagi aku akan jadi pacar kamu. Kalau untuk saat ini sebaiknya kita jadi temen aja ya J
Rupanya itu adalah surat balasan yang disembunyikan Rossa untuk Riko dan tak pernah diberikan padanya. ~

~SELESAI~

by : Ratu Regina Kayo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...